BKKBN Kepri ingatkan dua anak lebih sehat

Tanjungpinang – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (BKKBN Kepri) Rohina mengingatkan masyarakat khususnya pasangan usia subur bahwa memiliki dua anak itu lebih sehat.

“Jika lebih dari itu, maka anak berisiko mengalami stunting atau kekerdilan,” kata Rohina di Tanjungpinang, Senin.

Hal itu salah satunya dikarenakan faktor kehamilan yang tidak terencana atau tidak sehat. Idealnya, pasangan usia subur harus memberikan jarak kelahiran antara anak pertama dan kedua minimal tiga tahun.

Jika jarak kelahiran anak di bawah tiga tahun, maka potensi terkena stunting cukup besar, karena ini berkaitan dengan program pencegahan stunting di 1.000 hari pertama kehidupan anak, yaitu mulai hamil sampai usia anak dua tahun.

“Kalau misalnya tahun ketiga sudah melahirkan, maka tahun kedua sudah pasti hamil. Padahal anak harus diberikan ASI eksklusif selama dua tahun, agar ia tumbuh kuat dan sehat. Kalau hamil sebelum dua tahun, otomatis pemberian ASI terhenti dan ini berdampak terhadap tumbuh kembang anak,” ujar Rohina.

Rohina menyebut bahwa usia ideal pasangan usia subur menikah, yakni untuk lelaki berusia 25 tahun, dan perempuan berusia 21 tahun. Perempuan yang menikah di bawah 21 sangat berisiko, karena organ tubuh dan alat produksi belum siap hamil serta melahirkan.

BKKBN juga sudah menghitung bahwa ketika pasangan menikah pada usia 21 tahun dan melahirkan anak pertama pada usia 22 tahun, lalu melahirkan anak kedua dengan jarak misalnya lima tahun, maka di bawah usia 30 tahun pasangan usia subur sudah memiliki dua anak.

“Seorang ibu disarankan melahirkan di rentang usia 21-35 tahun. Kalau di atas usia 35 tahun, banyak risiko bagi kesehatan ibu dan janin,” ujar Rohina.

Oleh karena itu, lanjutnya, BKKBN sangat mengharapkan semua pasangan usia subur di Kepri agar selain mencegah stunting tiga bulan sebelum menikah, yaitu dengan memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.

Selain itu juga menyarankan setiap keluarga agar melaksanakan program Keluarga Berencana (KB) supaya dapat melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas sehingga terhindar dari stunting.

“Stunting dapat menjadi ancaman dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia bangsa. Pasalnya, stunting akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak,” demikian Rohina. (Ant)