Lingga.- Kegiatan webinar literasi digital Kementrian Informatika dengan tema “Menjaga Kualitas Belajar dari Rumah”. Moderator Rizky Al Yusra membuka webinar dengan menyapa peserta dan membawakan tegline Salam Liteasi Digital Indonesia makin Cakap Digital, serta mengingatkan kepada peserta selalu menjaga protokol kesehatan, mejaga jaaraak dan memakai masker. Moderator meminta kepada seluruh peserta berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan sambutan Dirjen Aplikasi dan Informtika KEMENKOMINFO Bapak Samuel A Pangarepan untuk membuka webinar Kabupaten Lingga di sambung dengan keynote speech oleh Gubernur Kepulauan Riau bapak H. Ansar Ahmad,SE.,MM. Selasa 03-08-2021. Pukul 09.10 WIB.
Bapak H. ansar ahmad menyampaikan berterimakasih kepada KEMENINFO dalam hal ini di beri kesempatan untuk masyarakat kami mengikuti kegiatan literasi digital 2021, dewasa ini banyak sekali kita temukan konten – konten yang tidak sesuai dengan undang – undang informasidan transaksi elektronik atau undang undang ITE dalam mengedukasi masyrakat kita kominfo menyelenggarakan kegiatan Literasi Digital di harapkan menambah wawasan masyarakat untuk lebih bijak dan berhati – hati dalam menggunakan Digital, selamat mengikuti kegiatan ini tetap semangat dan jaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan.
Empat narasumber pusat dan daerah serta Key Openion diperkenalakan oleh moderator. Menyampaiakan aturan main selama proses webinar diantaranya peserta wajib menyalakan kamera selama kegiatn berlangsung. Dan diahir sesi peserta akan mendapatkan sertifikat bagi yang suda mendaftar dilink pendaftaran dan mendapatakan dorprize e-money bagi 10 penanya terbaik.
Narasumber pertama Ibu Dr. Desi Rahmawati, M.Pd. menyampaikan materinya tentang “Saatnya Terampil Belajar Daring”. Semua perangkat hanya sebagai media atau alat. Yang menggunakan adalah kita, yang mengkontrol adalah kita. Jadi kita harus mengetahui apa yang kita gunakan. Memilih yang baik dan bijak dalam menggunakan media digital. Analogi perangkat digital, semua hal yang memiliki 2 sisi. Bukan senjata yang berbahaya tapi siapa yang menggunakan senjata tersebut. Jadi jangan salahkan perangkatnya tapi siapa yang dibelakang tersebut. Semua perangkat digital adalah sebagai media yang kita tau cara menggunakannya dan paham. Kita juga bisa mengevaluasi dan diakhir bisa menciptakan. Sebelumnya, kita harus bisa menganalisis sebelum menciptakan. Yang terkait dengan cakap digital, mampu mengoperasikan berbagai perangkat TIK dan mampu mengoptimalkannya untuk sebesar-besar manfaat bagi diri kita dan orang lain.
Praktisi Akademisi Bidang Menejen Pendididkan menuturkan Nilai utama dari dunia digital yang perlu kita adopsi, dunia digital membuat kita lebih kreatif dengan cara ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Kita bisa memanfaatkan dunia digital untuk kolaborasi, untuk membangun jejaring yaitu network dengan orang-orang. Berikutnya, setiap orang bisa dan berhak membuat konten. Maka dari itu kita perlu bersifat kritis dengan konten-konten yang ada di dunia maya. Sehingga apa yang perlu dijadikan kontrol untuk diri kita, pastikan media dijadikan alat sesuai kebutuhan kita. Jangan sampai kita lupa waktu, pastikan kita menggunakan karena kita butuh. Bukan hanya makanan yang menjadi kebutuhan tapi informasi juga menjadi kebutuhan yang bisa membuat kita berkembang. Adanya resiko jika kita tidak mengerti apa yang kita akses. Tanggung jawab kita, memeriksa apakah konten kita positif dan bermanfaat untuk orang lain. Tujuan Pendidikan adalah agar kita sadar akan hak dan kewajiban kita. Jadikan tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru (Ki Hajar Dewantara). Media digital sebagai sarana untuk membentuk karakter Pancasila sebagai nilai-nila dasar. Dengan media digital dapat membuat kita beriman, bertakwa kepada tuhan yang maha esa, dan berakhlak mulia, menjadikan kita kreatif, bergotong-royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis dan mandiri.
Narasumber Kedua Ibu Dr. (C) Rr Vemmi Kesuma Dewi, M.Pd menyamapaikan materinya dengan tema “Internet Sehat Dan Aman Saat Belajar Online”. sosialisasi internet sehat dan aman), harus melibatkan bebagai pihak. Kerjasama antara pihak sekolah dan orangtua pembelajaran harus menjadi prioritas kegiatan. Orang tua pembelajar yang seharusnya memiliki peran lebih aktif. Pengajar perlu aktif membimbing penggunaan gawai yang baik bagi anak, terutama mempersiapkan berbagai bahan ajar yang terintegrasi dengan teknologi gawai. Anak-anak terpakda belajar dirumah dan berpotensi kehilangan kualitas kegiatan belajar terbaik. Berdasarkan survey, diketahui 85,5 persen orangtua mengaku khawatir bila sekolah Kembali dibuka dan 72,2 persen orangtua setuju sistem pembelajaran jarak jauh. Merespon situasi pembelajaran dimasa pandemi, guru diharuskan berani melakukan inovasi. Guru mengira tugasnya adalah menjalankan kurikulum, mengikuti peraturan, administrator Pendidikan. Padahal tugas guru adalah memerdekakan potensi dari anak-anak sekolah.
Lanjut beliau menuturkan Bagaimana menjadi guru semestinya di era digital saat ini, guru harus menggembangkan diri dengan refeksi, berbagi dan kolaborasi secara mandiri. Memiliki kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik. Merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat yang berpusat pada murid dengan melibatkan orangtua. Berkolaborasi dengan orangtua dan komunitasi untuk mengembangkan sekolah dan menumbuhkan kepemimpinan murid. Mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpiak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah.Ketika melaksanakan pembelajaran jarak jauh kita menggunakan metode home based learning – method yang memiliki 3 jenis yaitu sinkronus yang merupakan online/ tatapmuka pada saat yang sama (real time), menggunakan zoom atau google meet dan lainnya. Asinkronus yang dilakukan online tapi tidak dilakukan pada saat yang sama (melalui platform LMS) seperti google class room, class dojo dan lainnya. Blanded, penggabungan antara tatap muka (real time) dan penggunaan LMS. Fase pembelajaran online, fase before yaitu guru memberikan persepsi atau materi melalui platform seperti wa grup untuk mempersiapkan siswa. Fase during, guru melaksanakan kelas online yang dilakukan seperti sekolah pada umumnya dan konsepnya ada umpan balik. Fase after, siswa mengecek Kembali pemahaman yang diberikan guru tadi.
Narasumber ketiga Bapak Adimaja, ST., MM., MMG. Menyamapaikan Materinya dengan tema “Bahasa, Etika Dan Sikap Diruang Digital”. Etika selalu berkaitan dengan orang yang menilai tentang kita. Tantangan berbahasa yang benar dan beretika di ruang digital. Berbahasa yaitu berkata-kata atau kalimat yang terdengar berupa suara atau audio. Jika bahasa itu benar berarti bermanfaat. Beretika adalah berperilaku benar atau buruk yang dapat dinilai atau dirasakan orang lain. Seluruh informasi di dunia ada di ujung jarimu, manfaatkan itu untuk belajar ketimbang menyebarkan kebencian di internet. Dunia saat ini bergerak di 4.0 dimana semua bergerak menggunakan internet. Internet merupakan alat untuk kita mencapai sebuah tujuan. Tahun 2020 pengguna internet di Indonesia 72% dari penduduk yang ada. Seluruh informasi di dunia ada di ujung jarimu, manfaatkan itu untuk belajar ketimbang menyebarkan kebencian di internet. Ancaman nyata jati diri generasi bangsa, dari 4,5 juta jiwa pengguna narkotika, 70 pesennya adalah pekerja dan 22 persen pelajar. Meski lebih sedikit, pengguna narkotika dikalangan pelajar dan mahasiswa sangat dikhawatirkan oleh BNN.Penguatan Pendidikan karakter, spiritual Quotient. Olah rasa yaitu pembentukan rasa dari sakit hati menjadi rasa nikmat. Olah pikir yaitu membentuk pikiran dari pikiran kotor menjadi jernih. Olah hati yaitu membentuk hati menjadi hati yang suci. Dan olah raga yaitu pembentukan raga menjadi sehat jasmani dan rohani. Materi yang baik di era digital, tempat dan waktu. Sesuaikan kebutuhan, umur dan Pendidikan. Kiat menjaga etika dan sikap saat belajar online, pertama yaitu menu video tidak dimatikan. Kedua, menu sound dimatikan saat narasumber/guru berbicara. Dan mencatat dan penuh perhatian pada materi yang disampaikan.
Narasumber Keempat Bapak Sugeng Fitri Aji, S.Pd.I., M.Pd.I. menyampaikan Materi dengaan tema “Pemahaman Budaya Digital Di Dunia Pendidikan“.Teknologi digital sudah menjadi kebutuhan primer. Kedudukannya saat ini adalah sandang, pangan, papan, gadget. Budaya digital bisa kita maknai dengan sebagai konsep yang memandang gagasan, sebuah “konsep yang menyelimuti” yang menggambarkan gagasan bahwa teknologi dan internet secara siginifikan membentuk cara kita berinteraksi, berperilaku, berfikir, dan berkomunikasi sebagai manusia dalam lingkungan masyarakat. Lima macam budaya digital dalam pendidikan, yang pertama memahami perangkat teknologi, informasi dan komunikasi (ICT). Kedua, kegiatan literasi seperti membaca dan menulis. Ketiga, kecakapan menggunakan perangkat teknologi, informasi, komunikasi. Keempat, literasi teknologi atau sebutan computer literacy. Kelima, literasi informasi fokus aspek pengetahuan. Skill di masa depan, Complex Problem Solving yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah yang asing dan belum diketahui solusinya di dalam dunia nyata. Social Skill, kemampuan untuk melakukan koordinasi, negosiasi, persuasi, mentoring, kepekaan dalam memberikan bantuan hingga emotional intelligence. Process skill, kemampuan terdiri dari : active listening, logical thinking, dan monitoring self. System skill, kemampuan untuk dapat melakukan judgement dan keputusan dengan pertimbangan cost-benefit serta kemampuan untuk mengetahui bagaimana sebuah sistem dibuat dan dijalankan. Cognitive Abilities, skill yang terdiri dari antara lain: cognitive flexibility, creativity, logical reasoning, problem sensitivity, mathematical reasoning, dan visualization.
Sementara diahir sesi ditutup oleh Key Opnion Leader @qonitah_azzahra – Founder @hellomentors, Trainer Market Place. Menyampikan untuk mengatasi diri kita saat belajar online, kembali kita diri kita bagaimana time manajemen kita. Bagaimana agar kita tidak kedistract aplikasi lain diluar belajar.(adv)





